Langsung ke konten utama

Pahami dan Tentukan Peran Orangtua dalam Pengasuhan Anak

keluarga selalu menjadi orang terdepan dan terpenting dalam kehidupan/ foto: RKI Tulungagung-WordPress.com

Keluarga adalah Rumah. Keluarga tempat ternyaman untuk pulang setelah perjalanan panjang. Keluarga akan selalu ada kapanpun dan dimanapun. Keluarga selalu menjadi orang terdepan dan terpenting di dalam kehidupan. Membangun keluarga merupakan awal lahirnya generasi mendatang. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang dapat dijadikan tempat untuk mendidik dan membentuk watak moral serta melatih kebersamaan sebagai bekal kehidupan bermasyarakat. Calon ibu dan ayah perlu menentukan keluarga seperti apa yang menjadi impian, pilihan dan harapannya serta perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjadi ayah dan ibu bagi anak-anaknya. 

Untuk dapat menjalankan pengasuhan, orangtua harus memiliki peran dan kepercayaan diri dalam mendidik anak-anaknya. Kepercayaan diri berasal dari konsep diri yang positif. Kepercayaan diri mengasuh anak menumbuhkan keyakikan bahwa orangtua mampu untuk menjalakan tugas-tugas dalam mengasuh anak. Oleh karena itu, memahami peran dan menentukan peran dalam mendidik anak dapat membantu dalam mengasuh dan membesarkan anak. 

Peran orangtua dalam pengasuhan anak sehari-hari
Terdapat empat tipe pola asuh yang diterapkan orangtua kepada anak sehari-hari :
1. Otoriter, yaitu orangtua yang memaksa anak untuk mengikuti apa yang orangtua inginkan. Orangtua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaaan anak. Jika anak tidak patuh, orangtua cenderung memberi hukuman fisik yang keras. Orangtua otoriter biasanya tidak hangat pada anak dan mengambil jarak dengan anak. 
Contohnya, ayah memukul anak ketika anak tidak mendengarkan ayah berbicara padahal anak tidak mendengar karena ayah berbicara dari jarak yang jauh.

2. Permisif (serba boleh), yaitu orangtua yang tidak menetapkan batas-batas tingkah laku dan membiarkan anak mengerjakan sesuatu menurut keinginannya sendiri. Orangtua yang permisif sangat hangat pada anak, tidak menuntut apapun dari anak dan tidak memiliki kontrol sama sekali pada anak.
Contohnya, orangtua membiarkan anak bermain sepanjang waktu tanpa ada batasan. Orangtua selalu mengabulkan permintaan anak dan tidak menolaknya.

3. Demokratis. Pola asuh demokratis menghargai kepentingan anak, tetapi juga menekankan pada kemampuan untuk mengikuti aturan sosial. Orangtua yang demokratis bersikap hangat pada anak dan sayang pada anak, namun tidak segan-segan mengharapkan tingkah laku yang baik, tegas dalam menetapkan aturan di rumah, dan memberi batasan-batasan. 
Contohnya, orangtua memberikan aturan-aturan penggunaan waktu kepada anak dan anak mengikuti jadwal sesuai aturan tersebut.

4. Diabaikan, yaitu orangtua yang mengabaikan keberadaan anak, bahkan menunjukkan ketidakpedulian terhadap anak. Mereka tidak mengambil tanggung jawab pengasuhan, dan tidak menetapkan aturan-aturan. 
Contohnya, orangtua tidak menentukan aturan jam berapa anak harus tidur dan tidak menyuruh anak tidur.

Pola asuh yang baik diharapkan mampu meningkatkan serta mendukung perkembangan fisik, emosional, sosial, finansial dan intelektual seorang anak. Sebagai orangtua mendengarkan pendapat anak atau memberikan kesempatan berpendapat kepada anak mampu menjalin komunikasi yang baik antara anak dan orangtua, sehingga anak merasa dihargai dan dianggap ada kehadirannya serta merasa dimengerti. Untuk itu, dalam membangun sebuah keluarga yang berkualitas dibutuhkan perencanaan yang matang dan tuntas.

Kita juga perlu memahami bahwa setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dengan keluarga lainnya dalam hal berbagi peran antara ayah dan ibu. Peran ayah dan peran ibu dalam mengasuh anak bisa saja berbeda tetapi beban tanggung jawab antara ayah dan ibu sama besarnya, yang terpenting adalah setiap anggota keluarga, ayah, ibu, termasuk kakek, nenek dan lainnya saling membantu dan memiliki visi yang sama dalam mengasuh anak.

Ingatlah kunci dalam menjadi orangtua yang baik adalah menjadi pribadi yang positif dalam bertutur kata, dalam tindakan dan dalam pikiran. Orangtua pun perlu membangun pribadi yang positif pada diri anak yang dimulai dengan menghindari memberi cap negatif pada anak, seperti mengatakan "kamu malas" dan memberikan penghargaan atas tingkah laku anak yang positif, seperti memuji usaha anak untuk membereskan mainan. Orangtua yang baik bukanlah mereka yang suka menyerahkan urusan pengasuhan kepada orang lain. Oleh karena itu, menciptakan kedekatan antara orangtua dengan anak adalah sebuah investasi yang sangat berharga.

Semoga seluruh keluarga-keluarga yang ada di dunia, selalu bahagia dan sejahtera. Aamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 2 : Allah Sengaja Patahkan Hatimu!

FOTO: Candi Borobudur, Jawa Tengah/ Nova Eliza  Allah sengaja patahkan hati kita bukan karena Ia tidak sayang, melainkan karena diri ini terlalu keras kepala saat jatuh cinta. Seakan paling tahu dan merasa sudah paling benar, tak butuh petunjuk arah padahal susah tersesat terlalu parah. Seberapa sering kita hanya melihat dari satu jalan dan satu sudut pandang saja dan terlalu congkak untuk mengabaikan semua kode Allah. Meskipun begitu, disaat kita merasa jatuh, Allah selalu sedia untuk menerima dan membantu.  Awalnya mungkin berat menerima kenyataan bahwa yang kita cinta tidak lagi dekat, hubungan yang sudah kita jaga dengan erat kini terlebur menjadi senyap. Mengikhlaskan hati dan menerima diri atas semua kehendak-Nya adalah pilihan yang tepat agar kuat dalam penantian dan kesabaran. Jangan lagi menyalahkan diri jika seseorang tidak tinggal, terkadang Allah memiliki cara lain yang berbeda untuk setiap makhluk-Nya. Allah sengaja patahkan hati kita dari cinta yang...

Bukan Kamu yang Salah, Tempatmu Saja yang Sampah!

Foto: akar tanaman/Nova Eliza Sebaik apapun kamu, jika berada di tempat yang salah maka akan tetap terlihat tidak berguna. Jawaban ini aku temukan setelah bertahun-tahun merasakan kepedihan yang tidak ada habisnya. Ketidakhadiranku di tunggu-tunggu, kesakitanku di nanti-nanti. Itulah aku, manusia yang paling di benci! Seakan tidak ada tempat untuk aku istirahat, semua ruang sudah sesak dengan orang-orang yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada pertanyaan bagaimana kondisiku saat ini, tidak ada waktu untuk aku memperbaiki luka lama yang masih berdarah-darah di sini, lantas mereka dengan sadar menusukku lagi, lagi, dan lagi. Seolah hanya mereka yang butuh divalidasi dan dimengerti. Aku hanya manusia, sama seperti yang lainnya. Aku tidak sempurna namun bukan pula si buruk rupa. Diriku cukup berharga untuk luka. Aku tidak lagi menyalahkan diriku sendiri, aku sudah cukup introspeksi diri, aku sudah berusaha agar di terima, sudah berusaha agar di anggap ada, sudah berusaha melaku...

Yakin siap Nikah? Berencana dulu baru Melangkah

Foto : Ilustrasi Perencanaan Berkeluarga/ posmetropadang.co.id Selalu ada awal untuk setiap hal, termasuk ketika akan berumah tangga. Berbagai rencana mungkin akan memenuhi benak kamu dan pasangan. Selain berbagai rencana mengenai pesta pernikahan, kamu dan pasangan juga wajib mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan berubah tangga itu sendiri. Membangun suatu keluarga tidaklah mudah, diperlukan sebuah perencanaan yang baik dan matang. Setiap pasangan perlu menentukan keluarga seperti apa yang menjadi impian, pilihan dan harapan, jumlah anak yang diinginkan, berwawasan ke depan, bertanggung jawab dan bertaqwa kepada Tuhan yang harus diperioritaskan.  Namun, sayangnya masih banyak remaja atau anak muda yang menikah hanya agar terbebas dari pertanyaan "kapan nikah?" saja. Padahal, menikah bukan balapan yang bisa dijadikan persaingan, jadi menikah bukan tentang siapa yang deluan sampai kepada pelaminan. Tapi menikah tentang siapa yang sudah mampu paling lama bertahan dan men...