Foto : Nova Eliza/ Aidi Kehilangan seorang ibu adalah duka yang tak terhingga, sebuah lubang yang menganga dalam jiwa. Lubang yang mungkin tidak bisa kembali tertutup rapat seperti sedia kala. Bahkan bisa jadi lubang itu semakin membesar dan malah semakin penuh dengan air mata. Tumpah, tergenang dan terabaikan. Setelah ibu pergi aku kehilangan lebih dari sekedar seseorang, rasanya seperti dunia ikut mengemas semua warnanya. Rumah jadi sepi, bukan karena tak ada suara, tapi karena suara yang paling hangat sudah tak ada. Hari-hari berlalu tapi waktu tidak menyembuhkan, ia hanya mengajari aku tentang bagaimana caranya berpura-pura kuat. Kehilangan ibu bukan hanya kehilangan satu orang. Aku kehilangan rumah, kehilangan tempat pulang, kehilangan versi terbaik dari diriku yang dulu pernah merasa utuh. Sekarang aku hanya bisa bertahan dengan kenangan, dengan harapan doa-doa yang dikirimkan benar-benar sampai, juga dengan rindu yang tidak pernah tahu harus di kirim kemana. Kehilangan ibu ...
Foto: akar tanaman/Nova Eliza Sebaik apapun kamu, jika berada di tempat yang salah maka akan tetap terlihat tidak berguna. Jawaban ini aku temukan setelah bertahun-tahun merasakan kepedihan yang tidak ada habisnya. Ketidakhadiranku di tunggu-tunggu, kesakitanku di nanti-nanti. Itulah aku, manusia yang paling di benci! Seakan tidak ada tempat untuk aku istirahat, semua ruang sudah sesak dengan orang-orang yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada pertanyaan bagaimana kondisiku saat ini, tidak ada waktu untuk aku memperbaiki luka lama yang masih berdarah-darah di sini, lantas mereka dengan sadar menusukku lagi, lagi, dan lagi. Seolah hanya mereka yang butuh divalidasi dan dimengerti. Aku hanya manusia, sama seperti yang lainnya. Aku tidak sempurna namun bukan pula si buruk rupa. Diriku cukup berharga untuk luka. Aku tidak lagi menyalahkan diriku sendiri, aku sudah cukup introspeksi diri, aku sudah berusaha agar di terima, sudah berusaha agar di anggap ada, sudah berusaha melaku...